People Come and Go?
A little story of How to Overcome the phase People Come and Go
Kamu tau semua orang punya cara masing-masing untuk menanggapi kalimat itu. Based on apa yang pernah ku alamin. When my mom suddenly gone padahal aku belum siap. Belajar banyak, aku belajar banyak. Berlari-lari terus seolah ada sesuatu yang dikejar. Padahal tidak ada. Sampai lelah sendiri, badannya juga lelah, jiwanya lelah, pikirannya lelah. I am running for nothing.
Berusaha avoid perasaan kesendirian. Padahal aku juga tau yang harusnya dibenahin itu perasaan ikhlas. Ikhlas tidak datang dalam waktu semalam. Apalagi untuk orang yang disayang. 4 Mei 2024, sebentar lagi harus sadar kalau mamah sudah pergi selama setahun. Dan aku disini masih kocar-kacir.
Pernah bertemu dengan seseorang, yang dari awal obrolan sudah menarik. Aku pikir aku perlu orang lain, i need company. Buat menemani untuk jalan terus, untuk tetap hidup. Karna pada dasarnya nanti akan ada orang lain kan yang temani kita hidup sampai tua? Dari awal pertama dimana tidak ada ekspektasi sama sekali sampai mulai berekspektasi. Buat aku tentang cinta itu dimulai dengan "decide", ada komitmen didalamnya. Di umur aku yang segini, ternyata bukan lagi cinta yang tumbuh secara tiba-tiba atau menunggu perasaan cinta duluan yang mulai. Tapi "decide". Aku perlahan-lahan memilih dia untuk jadi sandaran dan rumah untuk pulang. Ada perasaan bersalah karna bertindak sendiri tanpa persetujuan dia, ternyata tentang hati dan tindakan juga perlu dibicarakan. Pada akhirnya jadi sakit sendiri.
Kamu percaya tentang sembuh itu bisa lewat orang lain? Kamu harus tau kalau sembuh itu datangnya dari kemauan kamu sendiri. Ya, bisa dengan motivasi kamu untuk menjadi lebih baik buat orang yang disayang. Tapi semua berangkatnya dari kamu. Aku diajarkan tentang "Let Go" dari awal bertemu. Aku diajarkan tentang "Ayo cari hobby lain, jangan diam aja, kamu gaakan bangkit". Aku diberi tau kalau dunia itu cruel, jadi aku harus berhati-hati. Aku juga diberi tau kalau dewasa itu tidak selamanya menyenangkan. Semakin berjalannya waktu, aku terus mempertanyakan apakah aku diterima atau tidak. Apakah aku sudah masuk ke kehidupannya dan dilibatkan atau tidak. tidak pernah ada jawaban. Dia masih ada dalam dilema yang belum bisa dia lepaskan. Aku tau itu, aku sudah pikirkan semuanya dari awal. Aku merasa bisa untuk terima hal itu dan dengan hebatnya aku merasa bisa menunggu sampai dia mau untuk berproses. Nyatanya dia pun belum siap untuk selesai dengan dirinya. Jadi aku, bukan orang yang bisa sembuhin dia. Aku sadar aku tidak punya kapasitas untuk itu. Aku jadi naif, aku selalu membela dia atas perasaan sakit aku. "oh mungkin dia sibuk, oh mungkin dia lagi ga ingin diganggu, oh mungkin dia lagi dengan teman-temannya". Aku siapa memangnya sampai bisa lebih penting dari sahabat-sahabatnya. Aku pikir begitu dan aku mentolerir hal itu berulang-ulang.
3 Mei 2024, aku putuskan untuk selesai. Aku, tidak boleh korbankan perasaanku sendiri. Aku sedang berdiri sendirian sekarang. Hal sekecil apapun bisa aja jadi trigger untuk aku jatuh. Aku sadar aku masih lemah, aku sadar aku masih perlu belajar untuk menjadi dewasa. Hal yang tidak bisa aku kontrol, harus dilepaskan. Manusia itu memang mengecewakan, tapi aku tidak akan sanggup untuk bilang kalau aku kecewa terhadap orang lain. Aku merasa tidak punya siapa-siapa selain kepercayaan dengan yang diatas. Jadi aku turunkan egoku, biar yang diatas yang bertindak. Sudah ada di fase berserah. Belajar ikhlas atas apa yang seharusnya selesai dan apa yang seharusnya bukan jadi miliknya kita. Kita bisa berhasil tentang "Let Go". Semua orang ada masanya. Kalau kita tidak merasakan sakit, sepertinya kita gaakan teriak minta pertolongan dari atas. Karena selama ini manusia yang selalu kita cari, makanya kita diberi sakit karna Dia tau, kita bisa lewatin ini dengan berbalik dan berserah sama Dia. Dia juga yang beri hati yang luas untuk bisa mengampuni dan ikhlas atas apa yang kita rasakan dan kita alamin. God is Great, ayo belajar ikhlas dan taat. Karena untuk semua ada waktunya.
Comments
Post a Comment